Catatan: Jagad N *)
Menghadapi kompleksitas ancaman perang modern yang bersifat asimetris dan hibrida, prasyarat dalam doktrin Pertahanan Semesta (Hanmata) tidak lagi sekadar berbicara tentang modernisasi alutsista fisik di garda terdepan. Ada benteng pertahanan yang jauh lebih fundamental namun kini kondisinya sedang kritis: ketahanan mental, spiritual, dan karakter ideologis masyarakat kita. Muncul sebuah kegelisahan mendalam bahwa hari ini, bangsa Indonesia seolah sedang berjalan tanpa arah karena kehilangan rujukan nilai dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Erosi rujukan nilai ini merupakan ancaman internal nyata yang kasat mata. Ruang publik kita kian riuh oleh pragmatisme politik, hilangnya etika publik, serta pengabaian terhadap konsensus moral kolektif demi kepentingan kelompok jangka pendek.
Nilai luhur seperti gotong royong, tepa selira, kesantunan etis, dan musyawarah mufakat yang dahulu menjadi kompas penunjuk arah kehidupan bernegara, kini perlahan bergeser menjadi sekadar materi hafalan di ruang kelas yang kehilangan daya ikatnya dalam realitas sehari-hari.
Dalam kalkulasi strategi pertahanan kontemporer, runtuhnya rujukan nilai lokal merupakan celah keamanan (security vulnerability) yang sangat berbahaya. Musuh negara di era perang generasi kelima tidak lagi memerlukan konfrontasi militer konvensional untuk melumpuhkan suatu bangsa. Mereka cukup melancarkan infiltrasi kebudayaan, menyuburkan polarisasi, serta memicu disorientasi moral pada generasi muda melalui perang siber dan informasi. Ketika sebuah bangsa kehilangan jangkar nilai bersamanya, masyarakat akan rapuh dari dalam, mudah terpecah-belah, dan kehilangan daya tangkal moral terhadap intervensi asing.
Oleh karena itu, reaktualisasi pendekatan budaya harus diletakkan sebagai instrumen soft power yang berdiri sejajar dengan kekuatan pertahanan militer (hard power). Pendekatan budaya tidak boleh lagi direduksi sekadar sebagai upaya melestarikan kesenian di panggung seremonial. Lebih dari itu, budaya harus dipandang sebagai upaya taktis menginternalisasikan kembali falsafah Pancasila dan kearifan lokal Nusantara ke dalam setiap sendi kehidupan, pengambilan kebijakan, dan interaksi sosial masyarakat. Nilai-nilai ini adalah benteng pertahanan terakhir yang menjaga integrasi nasional tetap utuh dari pusat hingga ke desa-desa terluar.
Mengembalikan rujukan nilai yang pudar adalah agenda pertahanan mendesak yang tidak bisa ditunda. Kedaulatan sejati sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi persenjataan yang dimiliki, melainkan dari seberapa kokoh akar kebudayaan dan seberapa teguh masyarakatnya dalam menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas bersama. Di tengah badai geopolitik global saat ini, kembali ke akar budaya dan nilai dasar bangsa adalah satu-satunya jalan agar NKRI tetap tegak berdiri menghadapi segala bentuk ancaman zaman.
*) Pengamat Militer, Pemimpin Redaksi Strateimiliter.id












