OPINI  

Meneguhkan Kembali Fondasi Kebangsaan di Era Krisis Global dan Pertahanan Multidimensi

 

Catatan Jagad N *)

Dinamika geopolitik dunia hari ini sedang berada dalam titik ketidakpastian yang sangat tinggi. Mulai dari pergeseran peta kekuatan di kawasan Indo-Pasifik, ancaman krisis pangan global, hingga infiltrasi perang siber yang menembus batas-batas teritorial tanpa menggunakan satu pun proyektil fisik.

Di tengah pusaran ancaman multidimensi ini, satu pertanyaan mendasar wajib kita ajukan bersama: di mana posisi kekuatan kebangsaan kita berada?

Kebangsaan bukan sekadar status hukum yang tertera pada kartu identitas, bukan pula narasi romantis masa lalu yang dideklamasikan setiap tanggal upacara. Lebih dari itu, kebangsaan adalah modal strategis utama dalam arsitektur pertahanan sebuah negara.

Sejarah mencatat bahwa secanggih apa pun alutsista yang dimiliki sebuah bangsa, ia akan lumpuh seketika jika ikatan kebangsaan dan mentalitas bela negara rakyatnya telah rapuh dari dalam.

Saat ini, tantangan menjaga kebangsaan jauh lebih kompleks dibandingkan era kolonial.

Musuh tidak lagi selalu datang dengan kapal perang yang terlihat oleh radar, melainkan menyusup melalui algoritma media sosial, disinformasi yang memecah belah, hingga upaya sistematis pelemahan kedaulatan digital dan pangan kita.

Oleh karena itu, reaktualisasi nilai-nilai kebangsaan harus diletakkan dalam kerangka yang adaptif dan solutif. Indonesia yang kuat di masa depan membutuhkan tiga pilar kebangsaan yang solid:

Pertama, Kebangsaan yang Berdaulat secara Pangan dan Ekonomi. Ketahanan bangsa dimulai dari meja makan rakyatnya. Komitmen tegas pemerintah dalam membersihkan rantai pasok dari mafia pangan dan mewujudkan ekonomi yang berkeadilan merupakan langkah nyata untuk memastikan bahwa rakyat percaya negara hadir melindungi hajat hidup mereka.

Kedua, Kebangsaan yang Sadar Ruang Siber. Di era perang modern abad ke-21, penguatan pertahanan siber nasional adalah harga mati. Jiwa kebangsaan generasi muda harus tecermin dari bagaimana mereka menjaga kedaulatan digital, menjaga data nasional, dan tidak menjadi pion-pion yang menyebarkan narasi pembelahan di ruang publik digital.

Ketiga, Kebangsaan yang Peduli dan Siaga. Esensi tertinggi dari kebangsaan adalah solidaritas kemanusiaan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana, baik bencana alam maupun ancaman multidimensi lainnya.

Ketika komponen pertahanan seperti TNI bergerak cepat memitigasi bencana atau menyalurkan bantuan kemanusiaan ke pelosok negeri, di situlah wajah kebangsaan yang sejati hadir mengikat erat rasa persatuan kita.

Menatap masa depan, wawasan kebangsaan harus menjadi kompas moral dan strategis bagi seluruh elemen bangsa.

Memperkuat kebangsaan berarti memperkuat daya tangkal nasional dari segala lini.

Tugas kita hari ini bukan lagi memperebutkan perbedaan, melainkan merapatkan barisan demi menjaga tegaknya kedaulatan NKRI di tengah badai global yang belum mereda.

Kebangsaan adalah perisai tak terlihat kita. Dan perisai itu hanya akan tetap kokoh selama kita merawatnya dengan kesadaran, persatuan, dan aksi nyata untuk bumi pertiwi.

Penulis adalah Pengamat Militer dan Pertahanan Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *