JAKARTA, STRATEGIMILITER.id – Sejarah baru saja digoreskan oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Melalui upacara reflagging (alih bendera) resmi di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, kapal induk ringan eks-Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, kini sah bertransformasi menjadi KRI Sriwijaya-100.
Langkah akuisisi strategis ini tidak hanya sekadar menambah jumlah armada, melainkan mengubah peta kekuatan doktrin maritim Indonesia secara fundamental menuju kekuatan Green-Water Navy yang solid.
Mengapa Nama “Sriwijaya” Dipilih?
Megutip dari detiknews, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menegaskan bahwa pemilihan nama Sriwijaya didasarkan pada sejarah emas kerajaan maritim tertua di Nusantara.
Sriwijaya menguasai jalur perdagangan Selat Malaka hingga Laut Tiongkok Selatan pada abad ke-7 hingga ke-13 masehi. Dengan menyematkan nama ini pada nomor lambung 100, TNI AL mengusung misi geopolitik besar: mengembalikan kejayaan dan supremasi kemaritiman Indonesia di panggung global.
Dimensi dan Dapur Pacu KRI Sriwijaya-100
Sebagai kapal jenis cruiser-carrier (penjelajah bergeladak penerbangan), KRI Sriwijaya-100 kini menduduki kasta sebagai kapal perang terbesar yang dioperasikan oleh TNI AL
Dimensi Fisik: Memiliki panjang (Length Overall) 180,2 meter, lebar 33,4 meter, dengan flight deck sepanjang 173,8 meter. Bobot perpindahan penuh (displacement) mencapai 13.850 ton.
Sistem Penggerak: Diperkuat oleh sistem COGAG (Combination of Gas and Gas) yang mengintegrasikan 4 turbin gas FIAT/GE LM-2500. Sistem ini memuntahkan daya total 81.000 tenaga kuda (shp), yang mampu mendorong kapal hingga kecepatan maksimum 30 knot dengan jangkauan operasional ekstrim mencapai 7.000 mil laut.
Kapasitas Angkut: Mampu menampung 10 hingga 18 helikopter lintas matra (ergonomis untuk evakuasi medis, serbu amfibi, dan anti-kapal selam) serta menampung hingga 830 personel gabungan.

Pusat Komando Laut & Proyeksi OMSP
Kehadiran KRI Sriwijaya-100 menggeser paradigma pertahanan maritim Indonesia ke arah Sea Assertion dan kemampuan Power Projection regional. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menggarisbawahi tiga fungsi utama kapal ini.
Pusat Komando Operasi Laut (Floating Command Post): Menjadi simpul kendali operasi gabungan tiga matra yang dinamis.
Diplomasi Pertahanan: Menunjukkan taji Indonesia sebagai penyeimbang kekuatan di kawasan indopasifik.
Operasi Militer Selain Perang (OMSP): Geografi Indonesia yang berada di Ring of Fire membutuhkan logistik bergerak berskala masif. Kapal ini mampu menjadi pangkalan logistik, rumah sakit terapung, dan basis evakuasi udara saat bencana melanda wilayah terpencil.
KRI Sriwijaya-100 bukan sekadar kosmetik militer belaka. Ia adalah instrumen geopolitik yang menegaskan posisi tawar Indonesia di kawasan. Di bawah komando Kolonel Laut (P) Mochammad Fuad Hasan bersama 400 awak pertamanya, kapal raksasa ini memikul tugas berat: memastikan kedaulatan laut nusantara tetap aman dari segala bentuk ancaman kontemporer.
Bagaimana menurut kalian, Sobat strategimiliter.id? Apakah pengadaan kapal induk ringan ini sudah tepat, ataukah anggaran tersebut lebih baik dialokasikan untuk penambahan kapal selam? Tulis analisis kalian di kolom komentar!
(SM)












