JAKARTA, STRATEGIMILITER.id – Mengejutkan, setelah berbulan-bulan saling serang rudal dan drone, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menandatangani kesepakatan damai dengan Iran, dalam jamuan makan malam di Versailles, Prancis.
Kesepakatan damai tersebut tidak dihadiri Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Namun ia membubuhkan tanda tangan kesepakatan damai dari Teheran, Iran.
Namun, menurut para analis politik, pertemuan di Swiss ini masih jauh dari kata akhir, menyisakan pertanyaan besar tentang seperti apa bentuk “sejarah” yang akan benar-benar tercipta dari meja perundingan tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismaeil Baqaei menegaskan kepatuhan Iran terhadap komitmen nuklir bergantung pada pemenuhan kewajiban Amerika Serikat dan penghentian perang di Lebanon oleh Israel.
Iran akan menuntut timbal balik atas hak nuklir mereka berdasarkan NPT dan mengancam tindakan balasan, jika tuntutan tersebut diabaikan.
Waspadai Manuver Israel
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid [HNW] mendukung kesepakatan damai AS-Iran antara Amerika Serikat dan Iran atas prakarsa Pakistan, Qatar, dan Arab Saudi,
HNW mengingatkan agar perjanjian perdamaian yang secara terbuka ditandatangani oleh Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dengan disaksikan oleh publik di seluruh dunia tersebut dapat benar-benar dilaksanakan oleh semua pihak sesuai tahapan yang disepakati.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera [PKS] ini menekankan agar para pihak mewaspadai manuver-manuver Israel yang berusaha menggagalkannya dengan terus melakukan aksi militer di Lebanon, agar dunia terhindar dari krisis, ancaman perang dunia ketiga, dan agar dapat memulihkan perekonomian dunia akibat penutupan Selat Hormuz, serta agar semua pihak kembali fokus merealisasikan perjanjian perdamaian terkait Gaza/Palestina yang terus dilanggar oleh Israel, agar hadirlah perdamaian yang menyeluruh dengan merdekanya Palestina.
“Kita tentu berterima kasih dan mengapresiasi tinggi prakarsa Pakistan, Qatar, dan Arab Saudi yang efektif bergerak sehingga naskah perdamaian bisa disetujui dan ditandatangani, walau terus berusaha ‘dirusak’ oleh Israel dengan manuvernya yang masih tak henti menyerang Lebanon. Sikap Amerika Serikat juga sangat baik bila tidak hanya mengkritisi laku Israel tersebut, tapi benar-benar menghentikannya untuk tercapainya perdamaian dan terhindarkannya dunia, termasuk AS, dari krisis politik dan ekonomi,” ujarnya melalui siaran pers di Jakarta, Jumat (19/6), dikutip dari laman resmi MPR RI.
HNW, berharap agar semua pihak aktif mengingatkan AS dan pihak lainnya untuk konsisten dalam menjalankan perjanjian perdamaian ini.
“Jangan malah seperti Israel yang masih terus melanggar gencatan senjata dengan terus melakukan tindakan militer dan melarang masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, padahal mereka sudah menyetujui perdamaian, agar perdamaian dan stabilitas kawasan yang diinginkan oleh AS dan masyarakat dunia bisa benar-benar terwujud,” ujarnya.
Lebih lanjut, HNW berharap agar perjanjian perdamaian AS-Iran ini bisa benar-benar mengakhiri perang dengan menghadirkan perdamaian sejati dan segera memulihkan perekonomian dunia, termasuk di Indonesia, akibat penutupan Selat Hormuz selama perang terjadi.
“Dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, penting juga bisa segera menurunkan harga minyak dunia yang sangat membebani banyak negara, termasuk Indonesia,” ujarnya.
Oleh karena itu, HNW berharap dengan berakhirnya konflik antara AS-Iran ini, dunia bisa fokus untuk kembali menghentikan kejahatan Israel, memperjuangkan kondisi Gaza menjadi baik, hingga terwujudnya kemerdekaan Palestina.
“Pemerintah Indonesia juga bisa terus memainkan peran penting politik luar negerinya untuk terciptanya perdamaian dunia dan merdekanya Palestina, di samping tetap fokus mengatasi masalah-masalah domestik di Indonesia,” pungkasnya.
[jgd/rel]








